Dimensintb.com Lombok Timur - Di media sosial (medsos) dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Pohgading 3 milik oknum mantan anggota DPRD Lombok Timur yang diduga menyajikan makanan basi ke ratusan siswa di salah satu sekolah swasta di Desa Labuhan Lombok menjadi viral di medsos.

Bahkan tidak itu saja menjadi sasaran tembak di netizen di akun laman medsos.

Dalam postingan di medsos facebook  berjudul “Menu MBG Diduga Basi, Sekolah di Labuhan Lombok Layangkan Protes ke Dapur Penyedia” dan langsung memicu beragam tanggapan dari warganet. Sejumlah komentar menyoroti kualitas makanan, pelayanan dapur MBG, hingga aspek kebersihan dalam proses penyajian menu kepada siswa.

Salah satu komentar datang dari akun Wahab Owner Cilokscoopy yang menyentil kualitas dapur MBG dan mengaitkannya dengan dugaan kepemilikan oleh oknum mantan anggota DPRD Lombok Timur.

Dalam komentarnya, ia menyindir keras kualitas makanan yang dinilai tidak layak dikonsumsi siswa serta mempertanyakan komitmen penyedia dalam menjaga mutu program MBG.

"Dapurnya punya mantan anggota DPRD? Pantesan, aromanya mirip janji kampanye: Kelihatan manis di depan, tapi aslinya udah basi sebelum sampai ke rakyat! Niatnya sih 'Makan Bergizi Gratis', tapi kok malah jadi 'Modus Bisnis Gila'? Jangan jadikan perut anak sekolah sebagai tempat pembuangan stok bahan makanan yang gagal laku. Inget ya, membangun bangsa itu pakai nutrisi, bukan pakai nasi basi hasil korupsi kualitas! Kalau nggak sanggup masak yang layak, mending kasih kompornya ke ibu-ibu kantin, jauh lebih higienis," komentarnya.

Komentar lain disampaikan akun Ana Niana yang menyebut persoalan menu basi tidak hanya terjadi di dapur MBG Pohgading 3. Ia mengungkapkan bahwa di beberapa wilayah lain di Lombok Timur juga ditemukan menu serupa dengan kualitas yang dinilai buruk serta variasi menu yang itu-itu saja.

“Bukan di Pohgading saja, di wilayah Bagek Papan juga sering basi sayurnya, lauknya, buahnya ada yang rusak dan kecut, menunya juga muter begitu saja,” tulisnya.

Sementara itu, akun Joni Setiawan menyoroti kinerja para pekerja dan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia menyayangkan minimnya perhatian terhadap kualitas makanan, padahal program MBG diharapkan berjalan dalam jangka panjang dan menyasar anak-anak sekolah."Mau kerjaannya awet kok nggak mau memprioritaskan kualitas ya. Yang muncul masalah MBG aja sekarang," ujarnya.

Sorotan publik tersebut berawal dari temuan pihak sekolah di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, yang menemukan puluhan paket MBG dalam kondisi diduga basi saat proses pembagian kepada siswa. Padahal, jumlah penerima manfaat di sekolah tersebut mencapai ratusan siswa.

“Memang kami menemukan menu basi dalam sajian MBG yang dibagikan kepada siswa,” ujar salah seorang guru, Senin (26/1).

Pihak sekolah kemudian langsung menghubungi SPPG serta pihak dapur MBG untuk menyampaikan keberatan dan meminta klarifikasi. Pihak dapur merespons dengan mengakui kelalaian serta menyampaikan permohonan maaf.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Pohgading 3 Pringgabaya, Mustika Silvia, membenarkan adanya temuan menu MBG yang diduga basi. Ia mengatakan bahwa setelah menerima laporan dari pihak sekolah, SPPG langsung turun ke lapangan bersama kepala dapur, asisten lapangan, dan chef yang bertugas.

“Kami langsung mengonfirmasi ke pihak penerima manfaat agar makanan yang tidak layak konsumsi tidak dibagikan kepada anak-anak,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pihak dapur bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut. Sebagai bentuk tanggung jawab, menu MBG yang bermasalah diganti dengan penambahan porsi pada hari berikutnya.

“Masalah ini sudah diselesaikan dan dipertanggungjawabkan oleh pihak dapur. Menu MBG kami gandakan pada hari berikutnya,” ujarnya.

Mustika juga menyatakan bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius bagi pihak SPPG. Ke depan, ia berkomitmen untuk meningkatkan pengawasan dan memastikan kualitas serta kelayakan makanan yang disalurkan kepada para siswa penerima manfaat.

“Kami akan terus melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.(*)