Yayasan Speaker Kampung Indonesia menggelar kampanye sekaligus demonstrasi irigasi tetes di Kantor Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur, Sabtu (9/5).

Dimensintb.com, Lombok Timur – Di tengah ancaman krisis air saat musim kemarau, inovasi justru lahir dari desa. Yayasan Speaker Kampung Indonesia menggelar kampanye sekaligus demonstrasi irigasi tetes di Kantor Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Lokadaya yang didukung oleh European Union dan Yayasan Penabulu. Fokus utamanya adalah mendorong penggunaan teknologi hemat air melalui pendekatan jurnalisme warga berbasis komunitas.

Peserta yang terlibat tidak hanya dari kelompok perempuan, tetapi juga unsur pemerintah desa dari Ketangga, Suntalangu, dan Selaparang. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pemaparan materi hingga praktik langsung instalasi irigasi tetes di lahan pekarangan dan kebun kering.

Koordinator Program Kampanye Ekonomi Hijau sekaligus Direktur Yayasan Speaker Kampung, Hajad Guna Roasmadi, menegaskan pendekatan kampanye ini sengaja dilakukan melalui jalur jurnalisme warga.

“Kampanye dilakukan melalui gerakan jurnalisme warga. Warga yang bicara, warga yang mempraktikkan, dan warga yang menyebarkan cerita baiknya,” tegasnya dalam rilis tertulis diterima media ini, Selasa (15/5).

Menurutnya, program ini tidak berhenti pada sosialisasi semata. Tahapannya dimulai dari rekrutmen jurnalis warga di tiga desa, pelatihan teknis liputan dan penulisan, hingga praktik peliputan langsung di lapangan.

Salah satu fokus liputan adalah penerapan irigasi tetes di lahan kering. Bahkan, jurnalis warga perempuan sebelumnya telah turun langsung kelapangan untuk mendokumentasikan praktik petani yang telah lebih dulu menerapkan teknologi tersebut.

“Jurnalis warga perempuan sudah turun ke Dusun Tejong minggu lalu untuk meliput petani yang pakai irigasi tetes. Hari ini kita demonstrasikan lagi agar makin banyak yang tahu dan mau meniru,” tambahnya.

Dalam sesi demonstrasi, peserta diajarkan merakit sistem irigasi tetes sederhana menggunakan bahan murah dan mudah didapat, seperti galon bekas, selang infus, serta tandon air berbasis gravitasi.

Teknologi ini dinilai sangat relevan untuk wilayah Lombok Timur yang kerap menghadapi keterbatasan air. Selain hemat biaya, irigasi tetes mampu mengurangi pemborosan air hingga 70–80 persen dan tetap menjaga kelembapan tanah secara optimal.(*)