Dimensintb.com, Lombok Timur - Dinas Perdagangan Lombok Timur memastikan pasokan bahan pokok di pasar tetap aman dan terkendali meski nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh angka Rp17.669, Kamis (21/5).

Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur (Lotim), Hadi Fathurrahman, menegaskan bahwa fluktuasi kurs belum berdampak besar terhadap harga pangan di tingkat pedagang eceran. Sejumlah komoditas utama bahkan masih terpantau stabil.

"Minyak goreng memang ada sedikit kenaikan karena dipengaruhi dinamika global," ujarnya.

Menurutnya, ketegangan geopolitik dunia turut mendorong kenaikan harga bahan baku plastik untuk kemasan. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya produksi beberapa komoditas seperti minyak goreng dan gula pasir secara nasional.

Namun demikian, komoditas strategis lainnya seperti beras masih dalam kondisi aman, baik dari sisi pasokan maupun harga. Ia juga menyoroti ketahanan pelaku usaha lokal dalam menyiasati fluktuasi harga bahan baku impor.

“Pengusaha tahu bisa menekan harga karena langsung mengambil dari grosir, sehingga harga jual ke konsumen tetap stabil,” jelasnya.

Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Pemerintah Kabupaten Lotim terus menggencarkan intervensi melalui program pasar murah yang digelar di berbagai wilayah. Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia dan Bulog guna memastikan ketersediaan bahan pokok dengan harga terjangkau.

“Upaya dari pemda, kami sudah melakukan pasar murah secara merata,” tambahnya.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak terpancing isu kelangkaan bahan pokok yang berpotensi memicu panic buying. Stabilitas pasar, menurutnya, sangat bergantung pada sikap rasional masyarakat dalam berbelanja.

“Jangan sampai ada kepanikan berlebihan,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Lotim, H. Haerul Warisin, menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan harga pangan, khususnya beras, yang berada dalam pengawasan pemerintah pusat. Ia memastikan koordinasi dengan Bulog akan diperkuat sebagai langkah antisipasi jika terjadi lonjakan harga yang berpotensi memicu inflasi.

“Kita akan koordinasi dengan Bulog. Kalau ada gejolak harga yang berpotensi menyebabkan inflasi, tentu akan kita antisipasi bersama,” ujarnya.(*)