Sulhan Muchlis, Calon Anggota DPRRI dari Partai Demokrat, daerah pemilihan pulau Lombok, (foto/istimewa)

Dimensintb.com - Lahir dan besar di lingkungan pesantren dengan tradisi keagamaan yang kuat, Sulhan Muchlis menapaki jalur polidik dengan bekal yang komplet. Kenyang pengalaman, punya rekam jejak organisasi semenjak belia, dan memiliki jejaring yang luas di tingkat nasional, di pundak Sulhan-lah kini, harapan warga Pulau Seribu Masjid disandarkan.

Dikancah politik Bumi Gora, Sulhan Muchlis memang bukan nama yang asing. Dia telah membetot perhatian khalayak, karena di usianya yang relatif muda, telah menjabat sebagai pimpinan di DPRD Lombok Barat. Di usia yang masih belia pula, tokoh muda kelahiran 1976 ini telah menjadi pemimpin partai di Gumi Patut Patuh Patju.

Sulhan yang merupakan putra TGH Muchlis Ibrahim, salah seorang ulama kharismatik di Pulau Seribu Masjid, kini naik kelas. Melalui Partai Demokrat, dia mencalonkan diri sebagai Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Pulau Lombok.

”Sebagai santri yang dibesarkan di lingkungan pondok pesantren, kami memang tidak hanya didik menjadi pilar spiritual di tengah masyarakat. Kami juga dididik untuk menjadi pilar yang siap setiap saat turun tangan membangun bangsa dan negara,” ucap Sulhan, Kamis (14/09.

Jalan politik ditempuh alumnus Fakultas Teknik Universitas Mataram ini, menurutnya, lantaran di situlah dirinya bisa terus berkhidmat melayani umat. Rekam jejaknya membuktikan, betapa Sulhan telah menjadikan dunia politik benar-benar menjadi maslahat besar buat sesama.

Kenyang pengalaman politik dari lembaga legislatif di daerah, adalah modal besar Sulhan menapaki langkah menuju Senayan. Pengalaman itu dia padukan dengan pendidikan pesantren yang telah dijalaninya. Hal yang menjadikan mantan Ketua KNPI NTB ini menjelma sebagai politisi dengan bekal nilai-nilai moral yang kokoh yang selalu diyakininya menjadi landasan kuat bagi perjalanan politiknya.

Dikatakan Sulhan, sejauh ini dirinya tahu persis apa yang dibutuhkan masyarakat Pulau Seribu Masjid. Dunia pendidikan dan pengembangan ekonomi daerah menjadi salah satu prioritasnya untuk diperjuangkan.

Sehingga dirinya ingin menciptakan masyarakat yang lebih terdidik, adil, dan berdaya saing di tingkat lokal. Ia juga berkomitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam tindakan politiknya, yang diyakini dapat mengatasi berbagai tantangan sosial yang dihadapi oleh masyarakat.

Itu sebabnya, salah satu inisiatif utamanya adalah meningkatkan akses pendidikan berkualitas di Pulau Lombok. Terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mustafa Ibrahim  ini yakin, dengan dukungan dari teknologi, sebuah platform pembelajaran akan dapat diciptakan sehingga tersedia bagi semua anak. Dengan begitu, mereka dapat mengakses pendidikan berkualitas tanpa hambatan geografis atau ekonomi.

Jejak Sulhan berkontribusi membangun dunia pendidikan di Pulau Lombok begitu terentang panjang. Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Islahuddiny ini terjun langsung membidani pendidikan inklusif untuk generasi muda di Pulau Lombok.

Pondok Pesantren tertua di Kediri, Lombok Barat ini telah memiliki lulusan puluhan ribu santri yang berasal dari berbagai daerah di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Saat ini, Pondok Pesantren Al Islahuddiny bahkan telah melahirkan puluhan pondok pesantren baru yang menjadi cabang dan jejaring yang tersebar di sejumlah daerah di Pulau Lombok.

”Inilah wujud komitmen nyata kami untuk terus dan selalu menghadirkan solusi-solusi baru dalam mengatasi masalah-masalah pendidikan dan pengembangan ekonomi yang dihadapi saudara-saudara kita di Pulau Lombok,” kata Sulhan.

Sebagai tokoh muda, Sulhan juga memberi perhatian besar kepada generasi milenial. Generasi ini memang kini mendominasi populasi di NTB, seiring dengan bonus demografi yang dihadapi Indonesia. Bahkan dalam Pemilu 2024, jumlah pemilih generasi milenial lebih dominan dibanding generasi lainnya. Mereka mencapai 2,1 juta, atau setara dengan 54 persen dari total jumlah pemilih di NTB.

Perhatian pada generasi milenial itu pula yang menyebabkan Sulhan selalu membawa semangat dan ide-ide segar ke dunia politik. Dengan senang hati, dia mewakafkan dirinya sebagai corong dan suara generasi milenial demi bisa mengatasi segala permasalahan yang dihadapi oleh mereka.

"Saya selalu berkeyakinan, bahwa generasi milenial memiliki peran penting dalam membentuk masa depan negara ini,” ucapnya.

Sulhan menegaskan, generasi milenial adalah generasi yang tumbuh dengan teknologi dan memiliki visi berbeda tentang bagaimana Indonesia seharusnya berkembang. Akibatnya, generasi milenial cenderung terbiasa dengan teknologi dan inovasi yang mereka membantu meningkatkan efisiensi dan transparansi. Karenanya, memperjuangkan pendidikan berkualitas bagi generasi milenial juga menjadi tonggak penting bagi Sulhan. Ia berkomitmen untuk memperluas akses pendidikan yang berkualitas dan terjangkau, serta meningkatkan kualitas pendidikan untuk anak-anak muda tersebut.

Selain itu, akses generasi muda ke pasar kerja juga tak luput dari perhatian Sulhan. Itu sebabnya dia menyiapkan platform untuk mengadvokasi program pelatihan keterampilan yang relevan dengan tuntutan pasar kerja modern. Menyiapkan berbagai inisiatif yang akan mendukung kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda. Hal itu pada akhirnya, akan menciptakan peluang ekonomi yang lebih baik bagi generasi milenial.

Sulhan juga bertekad untuk terus melayani umat. Sebagai orang yang dibesarkan di Pondok Pesantren, dirinya tak ubahnya sebagai representasi umat. Kelak, jika amanah masyarakat Pulau Seribu Masjid benar-benar ada di pundaknya, dirinya ingin membawa perspektif beragam dalam proses legislasi, yang mewakili berbagai kelompok masyarakat yang beragama. Dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat, Sulhan memang memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu agama dan moral yang relevan dalam legislasi, seperti etika, moralitas, dan kesejahteraan sosial.

Banyak pihak meyakini, bekal di Pondok Pesantren juga akan menjadikan Sulhan dapat merancang kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Terlebih, kemampuan kritis yang telah dibentuk di pondok pesantren juga memupuk kemampuan berpikir kritis dan analitis, yang diperlukan dalam proses legislasi untuk mengevaluasi proposal kebijakan dengan baik.

Selain itu, keterlibatan Sulhan dalam banyak aksi amal dan kegiatan sosial yang menyasar beragam komunitas, sudah pasti akan dapat membantu Sulhan memahami masalah sosial di lapangan.

Toh, meski begitu, Sulhan sadar, bahwa mewujudkan hal tersebut, tak bisa dilakukannya sendirian. Dirinya sadar, meski hadir dengan solusi-solusi segar, dirinya juga dihadapkan pada tantangan yang tidak kecil. Sebab, kata Sulhan, terjun ke dunia politik dengan ide-ide baru, memerlukan dukungan dan pemahaman dari pemilih.

”Saya sangat sadar akan tanggung jawab yang akan lahir manakala amanah diberikan oleh masyarakat. Karena itu, saya akan terus mendengarkan dan berkomunikasi dengan masyarakat tiada henti,” ucap Sulhan.(*)