(foto/istimewa)

Dimensintb.com, Yogyakarta - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menganugerahkan status Anggota Kehormatan PWI kepada Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sultan HB X tercatat sebagai tokoh pemimpin daerah pertama di Yogyakarta yang menerima Kartu Anggota Kehormatan PWI.

Prosesi penganugerahan diawali dengan pembacaan surat ketetapan oleh Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, dan berlangsung dalam agenda Pelantikan Pengurus PWI DIY di Gedhong Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Kamis (22/1).

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Sri Sultan dalam menjaga kemerdekaan pers serta membangun hubungan yang harmonis antara pemerintah dan insan media. Selain menerima kartu anggota kehormatan, Sri Sultan juga menerima sertifikat dan jas PWI yang dikenakan langsung oleh Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir.

Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa pemerintah dan pers memiliki peran berbeda namun sama-sama penting dalam menopang kehidupan demokrasi dan kepentingan publik.

“Pemerintah dan pers itu bagaikan tiang pancang pada sebuah jembatan. Penempatannya berbeda, tetapi sama-sama menjadi soko guru jembatan tersebut,” ujar Sultan HB X kepada awak media usai acara.

Menurutnya, relasi yang sehat dan saling menyangga antara pemerintah dan pers akan berdampak langsung pada rasa aman dan kenyamanan masyarakat. “Bagaimana pemerintah dan pers saling menyangga dengan baik, sehingga jembatan itu dilalui publik dan rakyat merasa nyaman serta aman,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menjelaskan bahwa status Anggota Kehormatan PWI diberikan kepada tokoh nasional yang dinilai memiliki kepedulian terhadap kemerdekaan pers serta mampu menjaga hubungan konstruktif dengan komunitas jurnalis.

“Kami dari PWI Pusat memberikan anugerah Anggota Kehormatan PWI kepada Gubernur Yogyakarta,” kata Akhmad Munir.

Ia menambahkan, kriteria penerima Anggota Kehormatan PWI antara lain memiliki kepedulian terhadap kebebasan pers, memelihara hubungan yang baik dengan insan media, serta berkontribusi bagi organisasi PWI. “Beliau adalah tokoh pemimpin daerah pertama di Yogyakarta yang menerima Kartu Anggota Kehormatan PWI,” pungkasnya.

Dalam kepengurusan PWI DIY, sejumlah tokoh tercatat sebagai penasihat, di antaranya GKR Mangkubumi, Prof. Dr. Drs. Edy Suandi Hamid, Drs. A. Hafid Asrom, MM, Prof. Dr. Suyanto, dan Ki Bambang Widodo.

Sementara di jajaran Dewan Pakar terdapat nama Prof. Dr. Muchlas, Prof. Dr. Sujito, SH, MSi, Prof. Pardimin, PhD, Dr. Aciel Suyanto, SH, MH, Dr. Esti Susilarti, M.Par, Dr. TM. Luthfi Yazid, SH, LL.M., serta Ahmad Subagya.

Menanggapi usulan Ketua PWI DIY Hudono dan Ketua Umum PWI Pusat terkait gagasan menjadikan Yogyakarta sebagai Pusat Pers Pancasila, Sri Sultan menyarankan agar terlebih dahulu dilakukan kajian akademik.

“Jika studi akademik memberikan lampu hijau, saya akan berkomunikasi dengan DPRD. Jika semuanya oke, maka gagasan menjadikan Yogya sebagai pusat pers Pancasila akan berjalan,” ujar Sri Sultan. (*)