Proses produksi usaha roti salah satu UMKM di Dusun Bila Sundung Desa Paokmotong Kecamatan Masbagik.

Dimensintb.com, Lombok Timur – Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Lombok Timur mengeluhkan sulitnya mengakses Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini dinilai menghambat peran UMKM lokal dalam mendukung program prioritas pemerintah sekaligus membatasi peluang pengembangan usaha.

Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak tersebut adalah Suhamdi, pemilik usaha roti Kiara Bakery yang berlokasi di Dusun Bilasundung, Desa Paokmotong, Kecamatan Masbagik. Ia mengaku produknya seperti donat, roti tawar, dan brownies masih kesulitan menembus dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), meskipun siap memenuhi standar kualitas yang ditetapkan program MBG.

“Setiap hari kami produksi sekitar delapan karung atau dua kwintal. Roti tawar memang terkadang masuk ke MBG, tapi tidak rutin. Padahal sudah menawarkan, namun sering disuruh mengurus ke pihak dapur,” ujar Suhamdi, Selasa (20/1).

Menurutnya, usaha yang dirintis sejak 2018 itu sangat siap untuk diberdayakan secara maksimal dalam program MBG. Saat ini, harga produk yang ditawarkan ke program tersebut sekitar Rp2.000 per bungkus, dengan komitmen menyesuaikan standar kualitas dan kandungan gizi.

“Kami siap penuhi standar MBG, baik dari kualitas maupun gizi. Berapapun pesanan kami sanggup penuhi, asalkan tidak mendadak,” jelasnya.

Ia menambahkan, selama ini hanya beberapa dapur MBG di luar wilayah Masbagik yang secara mandiri datang membeli produknya. Ironisnya, dapur MBG yang berada di Kecamatan Masbagik justru belum pernah menyerap produk Kiara Donat.

“Kalau di Kecamatan Masbagik, tidak ada satu pun dapur MBG yang kami masuk,” katanya.

Suhamdi menuturkan, usaha rotinya dirintis dari nol dengan modal awal hanya satu karung tepung. Usahanya sempat terpuruk akibat pandemi COVID-19, namun berhasil bangkit dan kini telah mempekerjakan 15 karyawan serta memiliki 20 reseller, dengan jangkauan pemasaran ke berbagai wilayah di Lombok Timur.

Meski demikian, untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi, ia berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah daerah, terutama dalam hal bantuan peralatan.

“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah. Sampai sekarang alat oven yang kami gunakan masih manual,” tandasnya.(*)