![]() |
| (foto/istimewa) |
Dimensintb.com, Lombok Timur – Wajah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong kini tampak berbeda. Di bawah kepemimpinan putra daerah, Sudirman, hunian jeruji besi tersebut bertransformasi menjadi lingkungan yang kental dengan nuansa religius dan produktif.
Perubahan itu terungkap dalam agenda silaturahmi Kalapas Selong bersama insan pers, yang berlangsung hangat pada Rabu sore (11/02).
Dalam kesempatan tersebut, Sudirman menyampaikan kebanggaannya bisa kembali mengabdi dan membangun tanah kelahirannya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia juga mengapresiasi kuatnya sinergi antara berbagai stakeholder dan media di Lombok Timur, yang menurutnya menjadi faktor penting dalam mendukung program pembinaan di Lapas Selong.
“Saya merasakan sinergi yang luar biasa di Lombok Timur. Dukungan stakeholder dan media di sini sangat berbeda dan sangat membantu,” ungkap Sudirman.
Salah satu terobosan paling mencolok adalah perubahan paradigma dalam pembinaan warga binaan. Sudirman kini tidak lagi menyebut mereka sebagai narapidana, melainkan “santri”. Lapas Selong pun diarahkan menyerupai lingkungan pondok pesantren dengan pembinaan berbasis keagamaan.
Di dalam lapas, para santri tidak hanya menjalani rutinitas makan dan tidur, tetapi aktif mengikuti kegiatan membaca dan belajar Al-Qur’an melalui pembentukan Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ). Suasana religius ini diharapkan mampu menyentuh sisi batin para santri.
“Kami ingin menyentuh hati mereka melalui agama, agar ketika mereka keluar nanti tidak kembali lagi ke sini,” ujar Sudirman dengan penuh optimisme.
Berdasarkan data warga binaan, dari total 496 orang, terdapat 149 santri yang pada awalnya sama sekali belum mengenal huruf hijaiyah. Namun, semangat belajar mereka dinilai sangat tinggi, meski sebagian besar sudah berusia lanjut.
Untuk menunjang pembinaan kepribadian, Lapas Selong menjalankan sejumlah program unggulan, di antaranya One Day One Juz, di mana setiap santri diwajibkan membaca Al-Qur’an setiap selesai salat Zuhur. Selain itu, diterapkan Sistem Mentor, yakni santri yang sudah lancar mengaji ditunjuk menjadi guru bagi rekan-rekannya yang masih belajar Iqra.
Program Satu Santri Satu Al-Qur’an juga disiapkan sebagai fasilitas pendukung pembinaan spiritual. Bahkan, setiap santri yang bebas nantinya akan mendapatkan Al-Qur’an sebagai oleh-oleh sekaligus bekal hidup baru.
Tak hanya fokus pada pembinaan rohani, Lapas Selong juga membekali para santri dengan keterampilan kemandirian. Sudirman memperkenalkan produk unggulan bertajuk “Sel 199”, sebuah brand lokal hasil karya para santri Lapas Selong.
Beberapa program pembinaan kemandirian yang tengah berjalan meliputi bengkel pengelasan, jasa cuci mobil dan motor, serta pelatihan keterampilan bersertifikat yang bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP). Melalui program ini, para santri diharapkan memiliki keahlian dan sertifikat resmi sebagai modal mencari nafkah halal setelah bebas.
“Harapan kami besar. Kami ingin mereka keluar dari sini bukan sebagai mantan warga binaan, tetapi sebagai santri yang membawa perubahan positif bagi masyarakat,” pungkasnya.(*)

Comments
Post a Comment