Dua ibu-ibu yang menjadi relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di Lombok Timur, pada program Makan Bergizi Gratis. Jamilah sebelah kanan di SPPG Masbagik, dan Faridah kiri di SPPG Labuan Haji.

Dimensintb.com, Lombok Timur - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemenuhan gizi anak sekolah. Di balik dapur-dapur sederhana yang mengepul setiap pagi, tersimpan kisah perjuangan, keteguhan, dan harapan baru bagi banyak keluarga.

Program prioritas nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto ini perlahan menjadi jembatan perubahan hidup bagi masyarakat kecil, dari petani hingga para relawan dapur.

Bagi Jamilah (46), warga Masbagik Selatan, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, kehadiran program MBG menjadi titik balik kehidupannya. Sebelumnya, ia hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan gorengan keliling yang tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi biaya sekolah anak-anaknya.

Utang menjadi jalan terakhir untuk bertahan hidup. Namun sejak bergabung sebagai relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG, roda kehidupannya mulai berputar ke arah yang lebih baik.

“Alhamdulillah, sejak bekerja di dapur MBG, keluarga kami sangat terbantu secara ekonomi,” ujar Jamilah dengan mata berkaca-kaca, Selasa (10/2).

Kini, satu per satu utangnya telah ia lunasi. Kebutuhan harian tercukupi, biaya pendidikan anak-anaknya yang duduk di bangku SMP dan akan masuk SMA pun tak lagi menghantui. Bahkan, untuk pertama kalinya, Jamilah bisa menyisihkan penghasilannya untuk menabung.

Tak jauh berbeda, kisah mengharukan juga datang dari Nur Paridah Hidayah (39), seorang perempuan dengan keterbatasan fisik yang menjadi tulang punggung keluarga.

Setiap hari, ia bekerja sebagai pencuci ompreng di salah satu Dapur MBG di Kecamatan Labuhan Haji. Dengan alat penyangga kaki, ia tetap menjalankan tugasnya dengan penuh ketelitian dan semangat, melayani ratusan anak sekolah yang bergantung pada makanan sehat dari dapur tersebut.

“Saya sempat ragu, apakah saya mampu bekerja di dapur yang serba cepat ini,” tuturnya lirih.

Namun, sistem kerja MBG yang inklusif memberinya ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuan. Ia tak pernah merasa dipandang sebelah mata. Justru sebaliknya, dukungan dari rekan kerja membuatnya merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Koordinator Dapur MBG setempat menilai kehadiran pekerja disabilitas seperti Nur Paridah bukanlah formalitas. Mereka justru menunjukkan fokus dan ketelitian tinggi dalam menjaga kualitas dan kebersihan makanan. “Produktivitas mereka sering kali melampaui ekspektasi,” ujarnya.

Bagi Nur Paridah, bekerja di Dapur MBG bukan hanya soal penghasilan, melainkan tentang harga diri dan makna hidup. “Setiap kali saya mencuci ompreng, saya membayangkan senyum anak-anak yang memakan makanan itu. Saya merasa menjadi bagian dari masa depan mereka,” katanya dengan mata berbinar.(*)