Tampak rumah Suliati (33), warga Lendang Belo, Dusun Batu Tinja, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, Lombok Timur.

Dimensintb.com, Lombok Timur – Di sebuah rumah sederhana berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu yang telah lapuk, malam turun perlahan di kampung Lendang Belo, Dusun Batu Tinja, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, Lombok Timur.

Usai menunaikan salat Isya, Suliati (33) menanti putri sulungnya pulang mengaji. Sementara itu, tangannya sibuk menyiapkan obat untuk anak keduanya yang tengah demam. Di rumah kecil itu, ia bersiap menutup hari bersama dua anak perempuan yang kini menjadi seluruh dunianya.

Suliati menjalani hidup sebagai orang tua tunggal sejak sang suami meninggal dunia empat tahun lalu. Sejak saat itu pula, ia menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.

“Suami saya sudah meninggal, dan sekarang saya hidup bersama anak-anak,” tuturnya lirih saat ditemui, Senin (16/2) malam.

Kehidupan Suliati menjadi potret kemiskinan yang masih membelenggu sebagian warga di kaki Gunung Rinjani. Saat suaminya masih hidup, ia sempat menerima bantuan pangan non-tunai. Namun setelah kepergian sang suami, sebagian bantuan sosial tak lagi ia terima.

“Dulu saya dapat BPNT, sekarang hanya BLT Kesra,” ujarnya.

Dengan keterbatasan fisik dan penghasilan tak menentu sebagai buruh harian lepas, Suliati berusaha bertahan. Ia memang memiliki sebidang lahan kecil peninggalan suami, tetapi hasilnya belum mampu menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Pada musim hujan, kondisi rumahnya kerap memprihatinkan. Air hujan sering masuk ke dalam rumah, sementara dapur dan kamar mandi tanpa atap dan pintu membuatnya merasa serba kekurangan dibandingkan tetangganya.

Di usia yang masih relatif muda, raut wajah Suliati tampak lebih tua. Garis-garis lelah jelas terukir, namun tekadnya tak pernah padam. Ia menyimpan mimpi sederhana tetapi kuat: menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.

“Saya dulu tidak tamat SD. Anak saya harus lebih baik,” katanya.

Di tengah jalan berbatu Lendang Belo, semangat Suliati menjadi pengingat bahwa harapan bisa tetap hidup meski dalam keterbatasan. Kadang, senyum anak-anaknya hanya ditemani nasi dan sambal. Namun bagi Suliati, itulah sumber kekuatan untuk terus melangkah.

Sementara itu, Sekretaris Desa Selaparang, Lalu Andi Taofik, mengatakan bahwa Suliati sebelumnya terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Namun setelah suaminya meninggal dunia, bantuan tersebut terputus.

“Setahu kami dulu dia dapat PKH, tetapi setelah suaminya meninggal, bantuannya terhenti. Data dari pendamping memang cukup sulit diakses. Untuk BPNT Kesra, dia masih menerima,” ujarnya.

Pemerintah desa pun bergerak cepat. Aparat desa bersama pendamping PKH telah mendatangi rumah Suliati dan berencana mengusulkannya kembali sebagai penerima bantuan sosial.

“Insyaallah besok akan kami panggil ke kantor desa untuk proses pengusulan,” kata Lalu Andi Taofik.

Di rumah kecil itu, di bawah langit Lombok Timur, Suliati menutup malam dengan doa yang sama: semoga ada uluran tangan yang meringankan langkah hidupnya, agar dua putrinya kelak tumbuh di rumah yang layak dan memiliki masa depan yang lebih terang.(*)