Momen poto bersama di menentukan Musancab PDI Perjuangan Lombok Timur dan Jadi Momentum Konsolidasi Sejarah dan Kaderisasi Menuju 2029.

Dimensintb.com, Lombok Timur – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Lombok Timur menggelar Musyawarah Anak Cabang (Musancab) di Gedung Wanita Selong, Sabtu (14/2). Tak sekadar forum konsolidasi organisasi, Musancab ini menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus peneguhan komitmen kader untuk kembali menempel erat pada rakyat.

Musancab PDI Perjuangan se-Kabupaten Lombok Timur ini dibuka langsung oleh Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, Rachmat Hidayat. Rangkaian acara berlangsung khidmat dan sarat makna ideologis, diawali kirab panji partai, hening cipta yang dipimpin Sekretaris DPC PDI Perjuangan Lombok Timur Ahmad Amrullah, hingga pembacaan Dedication of Life Bung Karno.

Nuansa perjuangan terasa kuat, seolah mengajak seluruh kader menengok kembali akar ideologis partai yang dibesarkan oleh semangat nasionalisme dan keberpihakan kepada wong cilik.

Sebanyak 777 peserta memadati arena Musancab. Mereka terdiri atas pengurus PAC dan ranting se-Lombok Timur, termasuk ketua PAC lama dan baru yang akan dilantik. Kehadiran penuh ini mencerminkan kesiapan struktur partai besutan Megawati Soekarnoputri hingga ke akar rumput. Turut hadir jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan NTB, DPC PDI Perjuangan Lombok Timur, serta anggota DPRD Provinsi NTB dan DPRD Lombok Timur dari PDI Perjuangan.

Ketua DPC PDI Perjuangan Lombok Timur Ahmad Sukro dalam laporannya menegaskan bahwa Musancab menjadi momentum introspeksi dan kebangkitan bersama.

“Kita harus jujur melihat diri sendiri. Ini saatnya bangkit dan memperbaiki struktur partai dari atas sampai ranting. Kita tidak ingin PDI Perjuangan dianggap tidak ada,” ujarnya tegas.

Ia mengingatkan bahwa Lombok Timur memiliki posisi historis penting dalam perjalanan PDI Perjuangan di NTB. “Di sinilah sejarah itu dibangun. Jangan sampai kita mempermalukan perjuangan para pendahulu. Lombok Timur harus menjadi sesuatu yang berbeda dibanding DPC lainnya,” katanya, disambut pekikan siap para kader.

Semangat kader kian membara saat Rachmat Hidayat menyampaikan arahan. Anggota DPR RI empat periode ini secara khusus menghadirkan para pejuang partai era 1980-an, masa ketika PDI Perjuangan berjuang di bawah tekanan rezim Orde Baru dan berhasil meraih enam kursi DPRD Lombok Timur.

Namun, kemenangan itu diiringi ketidakadilan. Hak PDI Perjuangan untuk menduduki kursi pimpinan DPRD kala itu dialihkan penguasa kepada partai lain yang hanya memiliki lima kursi. Sejak saat itulah, perlawanan politik kader Banteng di Lombok Timur semakin menguat, dengan Fraksi PDI Perjuangan konsisten menyuarakan Minderheit Nota terhadap kebijakan yang dinilai menelikung kepentingan rakyat.

Menurut Rachmat, kehadiran para pejuang senior bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat nilai dasar perjuangan partai. “Mereka bukan cerita masa lalu. Mereka adalah fondasi partai. Di masa sulit, mereka tidak menyerah,” ujarnya.

Politisi kharismatik Bumi Gora itu menegaskan, partai besar tidak boleh tercerabut dari sejarahnya. Keberanian, militansi, dan keberpihakan kepada rakyat harus menjadi pedoman kader hari ini.

“Kita pernah enam kursi di masa yang tidak mudah. Sekarang tinggal tiga, tapi jangan pernah merasa kecil. Dari tiga, kita bisa kembali ke enam,” kata Rachmat, disambut tepuk tangan meriah.

Ia menekankan bahwa kunci kebangkitan partai terletak pada konsistensi kader untuk turun langsung ke tengah masyarakat. “Jangan hanya pandai bicara di forum. Temui rakyat, dengarkan keluhan mereka. Partai ini hidup kalau kadernya hidup bersama rakyat,” tegasnya.

Rachmat juga menyoroti pentingnya penguatan PAC dan ranting sebagai mesin utama gerakan partai, serta menekankan peran generasi muda sebagai harapan kebangkitan PDI Perjuangan menuju Pemilu 2029.

“Zamannya anak muda. Mereka independen, kritis, dan cerdas. Kalau kita tidak mendekati mereka dari sekarang, kita akan tertinggal,” ujarnya.

Musancab PDI Perjuangan Lombok Timur merupakan agenda lima tahunan sesuai amanat kongres partai. Lebih dari itu, forum ini menjadi titik awal konsolidasi, menyatukan kembali memori sejarah, sekaligus menyalakan api perjuangan kader dengan satu pesan utama: kembali ke rakyat, bersama rakyat.

Dalam kesempatan itu, Rachmat Hidayat juga memberi isyarat bahwa periode kepemimpinannya sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan NTB kemungkinan menjadi periode terakhir. Ia menegaskan akan memanfaatkan sisa masa jabatan untuk turun langsung menyambangi masyarakat hingga ke tingkat kecamatan.

“Ini periode terakhir saya. Saya ingin memastikan PAC dan ranting benar-benar hidup dan bergerak bersama rakyat,” katanya.

Rachmat dijadwalkan mengakhiri masa kepemimpinannya pada 2030, setelah tanpa jeda memimpin PDI Perjuangan NTB sejak tahun 2000. Karena itu, ia menaruh harapan besar pada kader muda agar regenerasi berjalan tidak sekadar pergantian usia, melainkan kesinambungan nilai dan perjuangan. (*)