Tradisi adat Roah 1001 Tebolak Beak yang dipusatkan di Pemakaman Batu Ngereng, Desa Gelanggang, Kamis (12/2). 


Dimensintb.com, Lombok Timur - Ribuan warga dari tiga desa di Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur, menggelar tradisi adat Roah 1001 Tebolak Beak yang dipusatkan di Pemakaman Batu Ngereng, Desa Gelanggang, Kamis (12/2). Tradisi turun-temurun ini dilaksanakan menjelang datangnya bulan suci Ramadan sebagai wujud silaturahmi, kebersamaan, dan doa bersama.

Sejak pagi, iring-iringan perempuan terlihat berjejer rapi membawa dulang berisi aneka makanan dengan penutup khas berwarna merah menuju area pemakaman. Tradisi Roah 1001 Tebolak Beak diikuti masyarakat dari Desa Gelanggang, Desa Lepak, dan Desa Sakra Selatan, yang setiap tahun berkumpul untuk melaksanakan ritual adat tersebut.

Ketua Panitia Penyelenggara, Ibrahim, mengatakan bahwa Roah 1001 Tebolak Beak merupakan warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat hingga kini.

“Roah 1001 Tebolak Beak memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat di sini yang dilaksanakan secara turun-temurun menjelang tibanya bulan suci Ramadan,” ujar Ibrahim.

Ia menjelaskan, istilah 1001 bukan merujuk pada jumlah dulang secara harfiah, melainkan menggambarkan banyaknya masyarakat yang berpartisipasi membawa dulang dengan tebolak (penutup dulang) berwarna merah sebagai ciri khas tradisi tersebut.

“Karena tebolaknya berwarna merah, maka dikenal dengan sebutan Roah 1001 Tebolak Beak,” terangnya.

Prosesi Roah 1001 Tebolak Beak diawali dengan silaturahmi warga, dilanjutkan tausiah oleh tokoh agama, ziarah kubur, zikir, serta doa bersama. Setelah itu, masyarakat melaksanakan begibung, yakni makan bersama sebagai simbol persaudaraan tanpa memandang status sosial.

“Filosofi dari Roah ini adalah kebersamaan, kekeluargaan, silaturahmi, serta pengajian agama, zikir dan doa,” tambah Ibrahim.

Pemilihan Pemakaman Batu Ngereng sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna khusus. Tempat tersebut merupakan pemakaman para pendahulu dan orang tua warga dari tiga desa yang terlibat.

“Pemakaman ini menjadi pusat makam masyarakat tiga desa. Di sinilah para leluhur kami dimakamkan,” jelasnya.

Tradisi Roah 1001 Tebolak Beak biasanya berlangsung sejak beberapa hari sebelum Ramadan tiba. Selain doa dan pengajian, masyarakat juga bergotong royong membersihkan makam serta memperbaiki fasilitas pemakaman.

Melalui tradisi ini, masyarakat berharap nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan spiritualitas tetap terjaga sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan.(*)