![]() |
| (foto/istimewa) |
Dimensintb.com, Lombok Timur – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur (Lotim).
Di tengah tren meningkatnya konsumsi dan pengeluaran masyarakat menjelang bulan puasa, warga Desa Ketangga justru memilih jalan berbeda. Mereka menyambut Ramadhan dengan menghidupkan kembali semangat gotong royong melalui tradisi Roah atau selamatan, namun dikemas lebih sederhana dan hemat biaya.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya Roah dilakukan di rumah masing-masing dengan zikir dan jamuan makan yang menelan biaya hingga lebih dari Rp1 juta per keluarga, tahun ini warga sepakat kembali ke konsep “Saling Tulung” atau saling membantu. Setiap keluarga hanya membawa satu dulang dengan anggaran sekitar Rp200 ribu, kemudian dikumpulkan dan disantap bersama di Masjid Pusaka.
Tokoh perempuan Desa Ketangga, Muhium, katakan kesepakatan tersebut lahir dari kesadaran bersama agar keberkahan Ramadhan tidak dibayangi beban ekonomi.
“Kami tidak ingin menyambut Ramadhan dengan utang atau tekanan biaya. Dengan satu dulang, pengeluaran bisa ditekan hingga sekitar 20 persen,” ujar Muhium, Jumat (13/2).
Selain lebih efisien dalam pelaksanaan ritual adat, warga juga merasakan manfaat ekonomi yang signifikan. Penghematan biaya selamatan memungkinkan masyarakat mempersiapkan kebutuhan awal Ramadhan, terutama di tengah kecenderungan naiknya harga bahan pokok seperti cabai dan sayuran.
“Justru jadi lebih irit. Sisa uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan puasa nanti,” kata Muhium.
Dari sisi keagamaan, tokoh agama setempat, Ustadz Adi, turut menguatkan semangat kesederhanaan tersebut. Ia mengimbau warga agar lebih memprioritaskan peningkatan kualitas ibadah dibandingkan pengeluaran berlebihan, baik untuk renovasi fisik, pakaian baru, maupun konsumsi yang tidak perlu.
“Ramadhan seharusnya dimaknai dengan kesederhanaan. Dengan menekan pengeluaran yang tidak penting, warga bisa lebih tenang beribadah dan punya cadangan untuk kebutuhan puasa hingga Idul Fitri,” tuturnya.
Inisiatif warga Desa Ketangga ini menjadi potret bagaimana nilai gotong royong dan kearifan lokal mampu menjawab tantangan ekonomi, termasuk dampak kenaikan harga pangan. Bagi mereka, menyambut Ramadhan dengan sukacita tidak harus mahal.
“Semangat kebersamaan inilah yang membuat Ramadhan terasa lebih berkah,” pungkasnya.(*)

Comments
Post a Comment