Dr. H. Ahsanul Khalik, Kadis Kominfotik NTB

Dimensintb.com - Riuh soal kelangkaan LPG 3 kilogram dalam beberapa hari terakhir terdengar nyaring dari berbagai penjuru. Media sosial penuh keluhan, grup WhatsApp ramai dengan foto antrean, dan percakapan warga dipenuhi satu keresahan yang sama: gas susah didapat, harga melonjak, dan kondisi terasa semakin tak menentu.

Sekilas, situasi ini tampak seperti krisis pasokan. Namun jika ditelisik lebih dalam, realitasnya tidak sesederhana itu.

Data justru menunjukkan arah yang berlawanan. Distribusi LPG 3 kg dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan signifikan. Hiswana Migas mencatat adanya tambahan penyaluran hingga 250 persen dari alokasi harian pada sejumlah tanggal di Maret 2026, dengan total puluhan ribu tabung digelontorkan ke pasar. Bahkan pada hari-hari tertentu, suplai masih diperkuat dengan tambahan hingga 50 persen.

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus pun menegaskan hal serupa: pasokan LPG subsidi untuk wilayah Lombok dalam kondisi aman dan mencukupi. Lonjakan konsumsi memang terjadi, tetapi itu merupakan pola musiman yang berulang setiap tahun, terutama menjelang Hari Raya Nyepi, Idulfitri, hingga Lebaran Ketupat.

Di titik ini, narasi “kelangkaan” mulai layak dipertanyakan.

Jika pasokan diperkuat, mengapa masyarakat tetap merasakan kekurangan?

Jawabannya terletak pada persoalan klasik namun kerap luput dari perhatian: distribusi dan perilaku konsumsi.

Momentum Ramadan dan Idulfitri selalu identik dengan arus mudik besar-besaran. Ribuan orang berpindah dari pusat kota ke daerah asal dalam waktu yang relatif singkat. Dampaknya langsung terasa pada peta konsumsi energi rumah tangga.

Kota seperti Mataram, yang biasanya menjadi pusat permintaan, justru mengalami penurunan konsumsi. Sebaliknya, daerah-daerah tujuan mudik mendadak dibanjiri kebutuhan dalam waktu bersamaan. Terjadi lonjakan permintaan yang tidak sepenuhnya terantisipasi secara cepat di level distribusi.

Di sinilah masalah bermula.

Stok LPG sebenarnya tersedia, tetapi tidak berada di titik dengan tekanan permintaan tertinggi. Ketidakseimbangan ini menciptakan ilusi kelangkaan—gas ada, tetapi tidak mudah diakses di lokasi yang paling membutuhkan.

Situasi diperparah oleh perubahan perilaku masyarakat. Menjelang hari raya, kecenderungan membeli lebih awal dan dalam jumlah lebih besar dari biasanya meningkat tajam. Pola ini menyebabkan stok di pangkalan cepat terkuras, meskipun distribusi tetap berjalan normal.

Ketika pangkalan kosong, masyarakat beralih ke pengecer. Di titik ini, mekanisme harga mulai keluar dari kendali. Tanpa pengawasan ketat, harga melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), memperkuat persepsi bahwa LPG benar-benar langka.

Padahal, yang terjadi bukan krisis pasokan, melainkan krisis distribusi yang diperparah oleh kepanikan.

Di era digital, persepsi bergerak lebih cepat daripada fakta. Satu unggahan tentang “gas habis” dapat menyebar luas dalam hitungan menit, menciptakan efek domino yang sulit dikendalikan. Informasi parsial dengan cepat berubah menjadi keyakinan kolektif.

Kepanikan pun menjadi bahan bakar tambahan.

Ironisnya, fenomena ini bukan hal baru. Ia berulang hampir setiap tahun, hanya dengan skala dan intensitas yang berbeda. Namun respons yang diberikan kerap masih bersifat reaktif, bukan antisipatif.

Ke depan, pendekatan distribusi harus berubah. Tidak lagi berbasis alokasi statis, melainkan berbasis mobilitas masyarakat. Data arus mudik semestinya menjadi rujukan utama dalam menentukan titik distribusi prioritas.

Extra dropping perlu dilakukan lebih awal dan lebih presisi, bukan sekadar respons saat gejolak sudah terjadi. Pengawasan distribusi juga harus diperketat hingga ke tingkat pengecer untuk memastikan harga tetap terkendali dan tidak dimanfaatkan oleh oknum.

Di sisi lain, komunikasi publik memegang peran krusial. Transparansi data dan kecepatan informasi menjadi kunci untuk meredam spekulasi. Tanpa itu, ruang kosong informasi akan selalu diisi oleh asumsi—dan sering kali, asumsi yang paling menakutkanlah yang dipercaya.

Namun, tanggung jawab tidak berhenti pada pemerintah dan penyedia energi. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas. Membeli sesuai kebutuhan, tidak melakukan penimbunan, serta lebih kritis dalam menyaring informasi adalah langkah sederhana yang berdampak besar.

Pada akhirnya, dinamika LPG 3 kg ini mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang terasa langka benar-benar langka.

Sering kali, yang kita hadapi bukan kekurangan barang, melainkan ketidakseimbangan antara pasokan, distribusi, dan cara kita merespons situasi.

Dan selama ketiganya tidak dibenahi secara bersamaan, “kelangkaan” semu seperti ini akan terus berulang—menjadi kepanikan musiman yang sebenarnya bisa dihindari.