Suasana menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di Pringgabaya Lombok Timur.

Dimensintb.com, Lombok Timur – Suasana menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah mulai terasa khusyuk di Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Sejak Kamis (19/3) siang, gema takbir telah berkumandang dari masjid, musala, hingga rumah-rumah warga di sejumlah desa.

Pantauan di lapangan, lantunan takbir terdengar di empat desa, yakni Pohgading, Batuyang, Seruni Mumbul, dan Labuhan Lombok. Warga tampak mulai berbenah, membersihkan halaman rumah, serta mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk menyambut hari kemenangan.

Di Desa Batuyang, para pengurus masjid terlihat mengumandangkan takbir sembari menyiapkan zakat yang akan didistribusikan kepada masyarakat pada malam takbiran.

Salah seorang warga Desa Pohgading, Suhaini (55), mengaku terharu dengan suasana yang mulai terasa sejak siang hari. Ia menyebut momen Idul Fitri menjadi waktu paling dinantikan untuk berkumpul bersama keluarga.

“Ini momen yang paling dinantikan. Suara takbir mengingatkan kita pada kebesaran Allah dan kemenangan setelah sebulan berpuasa, sekaligus momen berkumpul dengan anak dan cucu,” ujarnya sambil menyiapkan hidangan untuk keluarga.

Sebagai jamaah Muhammadiyah, Suhaini mengaku telah lebih dulu merasakan suasana Lebaran. Hal itu lantaran Muhammadiyah telah menetapkan Idul Fitri jatuh pada 20 Maret 2026, tanpa menunggu hasil sidang isbat pemerintah.

“Kalau kami sudah terasa lebaran karena sudah ditetapkan. Tapi kami tetap menghargai warga yang menunggu hasil isbat. Semoga tetap bersama meskipun kami lebih dulu,” katanya.

Sementara itu, di Desa Pringgabaya, sebagian masyarakat memilih belum mengumandangkan takbir dan masih menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama RI.

Takmir Masjid Jami’ul Khair menyampaikan bahwa pihaknya tetap mengikuti ketetapan pemerintah sebagai bentuk kepatuhan.

“Kalau kami masih menunggu dari pemerintah, tentu harus patuh pada pemimpin. Itu juga menjadi pedoman kami,” ujarnya.

Ia menambahkan, perbedaan dalam penetapan hari raya bukan hal baru dan sudah menjadi dinamika yang terjadi setiap tahun. Meski demikian, kerukunan antar warga tetap terjaga dengan baik.

“Ini sudah biasa terjadi. Meskipun ada perbedaan, kami tetap rukun, damai, dan saling menghargai,” pungkasnya.(*)