Ketua Mitra Dapur Generasi Emas NTB, Hairil Pasihin

Dimensintb.com, Mataram – Ratusan dapur mitra Badan Gizi Nasional (BGN) di Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaporkan mengalami penangguhan operasional sementara (suspensi) karena belum memenuhi standar yang ditetapkan. Data menunjukkan sebanyak 302 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terdampak, dengan 105 unit di antaranya berada di Kabupaten Lombok Timur.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Mitra Dapur Generasi Emas NTB, Hairil Pasihin, menyatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari peringatan yang sejak awal telah disampaikan kepada seluruh mitra dapur.

Ia menegaskan, salah satu persoalan utama yang menjadi sorotan adalah terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Standar tersebut, kata dia, telah lama disosialisasikan oleh BGN sebagai upaya mencegah pencemaran lingkungan.

“Dari awal sudah diwanti-wanti agar dapur memenuhi standar, termasuk IPAL. Sudah ada panduan, baik manual maupun sistem portable. Jadi ketika tidak sesuai, wajar jika muncul tindakan tegas berupa suspensi,” ujarnya, Rabu (1/4).

Menurutnya, keputusan suspensi didasarkan pada laporan dari masing-masing Kepala SPPG. Oleh karena itu, pihaknya terus mengingatkan mitra agar membangun dan mengelola dapur sesuai ketentuan guna menghindari sanksi dan kendala saat audit.

Ia juga menekankan bahwa saat ini tidak ada pilihan lain bagi mitra selain segera melakukan pembenahan. BGN melalui struktur koordinasi seperti KAREK dan KORWIL telah meminta setiap Kepala SPPG mengirimkan bukti berupa foto atau video IPAL yang sesuai standar.

“Kalau ingin kembali beroperasi, IPAL harus disesuaikan dengan standar yang sudah ditetapkan dan dilaporkan secara berjenjang,” tegasnya.

Di sisi lain, Hairil mengungkapkan adanya sejumlah kasus di mana dapur yang sebenarnya telah memenuhi persyaratan tetap masuk dalam daftar suspensi. Hal tersebut diduga terjadi akibat kesalahan administratif, seperti kekeliruan dalam unggah data atau pelaporan.

“Ada mitra yang sudah lengkap, baik dari sisi SLHS maupun IPAL, tapi tetap tersuspensi. Setelah ditelusuri, ternyata ada kesalahan upload atau informasi,” jelasnya.

Ia menilai kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan profesionalisme serta koordinasi yang lebih baik antara mitra dapur dan pelaksana di lapangan. Miskomunikasi disebut masih kerap terjadi dan berdampak pada status operasional dapur.

Ke depan, Forum Mitra Dapur Generasi Emas NTB berencana memperkuat koordinasi internal serta menjalin komunikasi lebih intensif dengan BGN dan pihak terkait. Pertemuan juga akan segera digelar untuk membahas langkah strategis, termasuk penanganan kasus suspensi yang dinilai meresahkan mitra.

“Kami ingin semua pihak satu bahasa. Mitra tenang, pelaksana juga profesional, sehingga program ini bisa berjalan baik tanpa menimbulkan keresahan,” pungkasnya.(*)