Penulis oleh : Ariady Achmad dan Tim Minggu : 5 April 2025

Dimensintb.com, Opini - Dentuman rudal yang menghantam Teheran pada 28 Februari 2026 bukan sekadar peristiwa militer biasa. Ia adalah potret telanjang bagaimana dunia modern bekerja—bukan hanya digerakkan oleh ancaman, tetapi juga oleh kepentingan yang terstruktur dan berulang.

Di layar televisi, publik kembali disuguhi narasi lama: pertahanan diri, stabilitas kawasan, dan ancaman nuklir. Bahasa yang terdengar sah, terukur, dan seolah tak terbantahkan. Namun di balik itu, ada satu pertanyaan yang jarang mendapat ruang: apakah perang ini benar-benar soal keamanan, atau justru tentang siapa yang diuntungkan?

Sejarah telah menunjukkan bahwa “ancaman” dalam politik global tidak selalu lahir secara alami. Ia kerap dibentuk, dipelihara, dan diperkuat melalui berbagai instrumen—media, kebijakan luar negeri, hingga tekanan diplomatik. Iran, selama puluhan tahun, ditempatkan dalam posisi itu: sebagai musuh yang harus selalu diawasi, bahkan dilawan.

Bukan berarti Iran tanpa masalah. Namun ketika satu narasi terus diulang tanpa ruang alternatif, publik perlu mulai bertanya: apakah ini realitas, atau konstruksi?

Di sisi lain, ada fakta yang sulit diabaikan—perang adalah bisnis yang tak pernah benar-benar merugi. Setiap konflik meningkatkan permintaan senjata. Setiap eskalasi membuka kontrak baru. Industri pertahanan global hidup dari ketegangan yang terus dijaga.

Dalam konteks ini, perang bukan lagi sekadar tragedi kemanusiaan. Ia juga menjadi bagian dari siklus ekonomi. Semakin besar rasa takut yang dibangun, semakin besar pula legitimasi untuk memperkuat militer. Dan di situlah keuntungan mengalir.

Lebih jauh, hubungan antara politik dan korporasi membuat batas keduanya semakin kabur. Fenomena “revolving door” memperlihatkan bagaimana pejabat negara dan pelaku industri saling bertukar peran. Keputusan yang diambil hari ini bisa saja berdampak langsung pada keuntungan pihak yang sama esok hari.

Dalam situasi seperti ini, sulit mengatakan bahwa kebijakan benar-benar netral.

Hubungan Amerika Serikat dan Israel pun tidak bisa dilepaskan dari dinamika tersebut. Dukungan yang terlihat sebagai aliansi strategis, pada kenyataannya juga dipengaruhi oleh politik domestik, jaringan donor, dan kepentingan elektoral. Sementara Iran, secara tidak langsung, menjadi elemen penting dalam menjaga narasi ancaman global.

Ironisnya, dunia kerap membedakan kekerasan berdasarkan siapa yang melakukannya. Ketika negara meluncurkan serangan, ia disebut operasi militer. Namun ketika aktor non-negara melakukan hal serupa, label terorisme segera disematkan.

Padahal, bagi korban di lapangan, perbedaannya sering kali tidak terasa.

Inilah yang memperlihatkan bahwa dunia tidak hanya diatur oleh hukum dan moralitas, tetapi juga oleh apa yang bisa disebut sebagai “deep system”—jaringan luas yang terdiri dari negara, korporasi, lembaga pemikir, dan kekuatan ekonomi yang bergerak dalam kepentingan yang saling terkait.

Dalam sistem ini, konflik bukan kegagalan. Ia justru bagian dari mekanisme.

Perang membuka peluang. Krisis memperluas kontrol. Ketakutan menciptakan legitimasi.

Maka, perang Iran vs Amerika-Israel 2026 seharusnya tidak hanya dilihat sebagai benturan geopolitik semata. Ia adalah cermin dari cara dunia bekerja hari ini, di mana kepentingan sering kali lebih dominan daripada nilai.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah pola ini ada. Tetapi, apakah publik cukup berani untuk melihatnya dan mengakuinya.(**)