Sekretaris Daerah Lombok Timur, HM. Juaini Taofik pada peluncuran Ekowisata Mangrove di TWA Keramat Suci, Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Sabtu (4/4).

Dimensintb.com, Lombok Timur - Peluncuran Ekowisata Mangrove di TWA Keramat Suci, Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Sabtu (4/4), tak sekadar menjadi seremoni pembukaan destinasi baru. Di balik rimbunnya hutan mangrove, Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur HM. Juaini Taofik justru mengangkat makna filosofis tentang kehidupan, cinta, hingga pentingnya menjaga alam.

Menurut Sekda, mangrove mengajarkan nilai kesederhanaan yang sarat makna. Ia menyebut, cinta yang sejati bukan soal memiliki, melainkan tentang menjaga dan melindungi. Nilai itu, kata dia, relevan dalam membangun rumah tangga yang harmonis sekaligus dalam merawat lingkungan.

“Di balik rimbunnya mangrove ada kesan sederhana. Cinta yang baik adalah melindungi, bukan memiliki,” ujarnya.

Ia menegaskan, prinsip yang sama juga berlaku dalam menjaga alam. Kesadaran untuk melindungi menjadi kunci keberlanjutan ekosistem, sebagaimana hubungan yang sehat dalam keluarga akan menjauhkan dari kekerasan karena dilandasi rasa saling menjaga.

Pada kesempatan itu, Sekda menyampaikan apresiasi kepada Wahana Visi Indonesia (WVI) yang dinilai telah menunjukkan komitmen awal dalam mewujudkan kawasan tersebut sebagai destinasi ekowisata. Ia menyebut, langkah ini menjadi pintu pembuka bagi kolaborasi yang lebih luas ke depan.

“Tujuan akhirnya bukan hanya restorasi mangrove, tetapi bagaimana ekonomi masyarakat Desa Sugian ikut bergerak melalui penguatan variasi usaha,” tegasnya.

Mengangkat potensi mangrove sebagai benteng alami dari abrasi, Sekda juga mengingatkan pentingnya pengelolaan destinasi yang bijak dan berpihak pada masyarakat. Ia bahkan menitipkan pesan agar pengelola tidak melupakan akar awal pembangunan.

Tak kalah penting, ia menyoroti perlunya pemisahan yang jelas antara manajemen pengelolaan dan hak kepemilikan. Banyak destinasi wisata, kata dia, tumbang karena gagal mengelola dua aspek tersebut secara profesional.

Dalam mendorong kemajuan wisata, Sekda mengajak seluruh pihak untuk kedepankan optimisme dan menghindari persaingan tidak sehat. Ia menekankan bahwa kekuatan destinasi terletak pada kolaborasi.

“Semakin banyak pelaku wisata, semakin luas pasar yang kita dapatkan,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi tiga pilar utama pengembangan wisata, yakni aksesibilitas, komunikasi, dan atraksi. Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dinilai menjadi kunci dalam menghadirkan inovasi atraksi tanpa mengorbankan kelestarian mangrove.

“Pokdarwis adalah nyawa destinasi. Pemerintah dan mitra hanya sebagai pendamping,” tandasnya.

Sekda berharap, Desa Sugian ke depan mampu tumbuh menjadi desa mandiri dengan fondasi ekonomi yang kuat, layaknya akar mangrove yang kokoh menopang wilayah pesisir.

Sementara itu, Kepala Desa Sugian Lalu Mustiadi menjelaskan bahwa wilayahnya didominasi kawasan pesisir yang langsung berhadapan dengan Gili Sulat dan Gili Lawang. Ia mengakui, penataan kawasan wisata di Pantai Gubuk Bedek Keramat Suci selama ini mendapat pendampingan intensif dari WVI.

Ia berharap, kolaborasi tersebut terus berlanjut, tidak hanya pada program restorasi mangrove, tetapi juga pengembangan potensi lain seperti tambak masyarakat.

“Harapannya Desa Sugian bisa sejajar dengan desa wisata maju lainnya di Lombok Timur,” ujarnya.

Perwakilan WVI, Sidiq, menegaskan bahwa pengembangan ekowisata ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang selama 5 hingga 10 tahun ke depan. Fokus utama tidak hanya pada penanaman, tetapi restorasi mangrove secara menyeluruh.

“Ini tentang perlindungan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, dukungan pemerintah desa, kelompok masyarakat, hingga organisasi lokal menjadi motor utama dalam pengembangan kawasan tersebut. WVI pun berkomitmen memperluas partisipasi publik dan menggalang dukungan sumber daya yang lebih besar.

Peluncuran ekowisata ini juga dirangkaikan dengan penyerahan Masterplan Ekonomi Wisata Mangrove dari WVI kepada Pemerintah Desa Sugian, serta dokumen pelatihan ekowisata kepada Mangku Kadus Alam.

Sejumlah pihak turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan Pemda, Camat, Kapolsek, Danramil, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda.(*)