![]() |
| Gambar animasi kesedian Hewan Kurban Jelang lebaran Idul Adha. |
Dimensintb.com, Lombok Timur -Menjelang Hari Raya Iduladha, ketersediaan hewan kurban di Kabupaten Lombok Timur dipastikan aman. Pemerintah daerah melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan menegaskan stok sapi dan kambing masih mencukupi kebutuhan masyarakat.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh. Hultatang, menyebutkan Lombok Timur selama ini bahkan menjadi salah satu daerah pemasok sapi bagi wilayah lain di Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Kalau kita bicara ketersediaan hewan kurban, kita cukup tersedia. Bahkan selama ini Lombok Timur mensuplai sapi ke kabupaten lain,” ujarnya.
Menurutnya, dari sisi populasi, Lotim tercatat sebagai salah satu daerah dengan jumlah ternak sapi tertinggi bersama Lombok Tengah. Mobilitas ternak antarwilayah pun dinilai sebagai hal yang lumrah terjadi.
“Sapi ini mobilitasnya tinggi, jadi tukar-menukar antar kabupaten itu biasa,” jelasnya.
Untuk jenis ternak kurban, sapi Bali diperkirakan tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Pemerintah memastikan stoknya dalam kondisi aman. Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melakukan pengecekan lapangan di sejumlah sentra penggemukan, seperti Suela, Aikmel, Wanasaba, dan Pringgasela.
Berdasarkan data terbaru, populasi sapi di Lotim mencapai lebih dari 130 ribu ekor, sementara populasi kambing sekitar 90 ribu ekor. Dengan jumlah tersebut, daerah ini dinilai tidak perlu mendatangkan ternak dari luar untuk memenuhi kebutuhan kurban.
“Secara umum kita tidak perlu mendatangkan sapi dari luar, karena stok kita sudah cukup,” tegasnya.
Dari sisi harga, kondisi pasar ternak juga relatif stabil. Harga sapi berkisar Rp130 ribu per kilogram, sedangkan kambing sekitar Rp88 ribu per kilogram.
Meski stok aman, pemerintah tetap mewaspadai potensi penyebaran penyakit hewan, khususnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Tingginya mobilitas ternak, terutama di pasar hewan yang berlangsung hingga tiga kali dalam sepekan, menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan.
“Pergerakan ternak ini sangat tinggi, bukan hanya ternaknya yang berpindah, tetapi penyakit juga bisa ikut menyebar,” ungkapnya.
Pasar hewan menjadi titik krusial dalam pengendalian penyakit, karena menjadi tempat berkumpulnya ternak dari berbagai daerah sebelum didistribusikan kembali ke masyarakat. Untuk itu, Dinas Peternakan memperkuat langkah pencegahan melalui edukasi kepada pedagang serta pembagian obat-obatan.
“Kami turun langsung ke pasar hewan untuk memastikan ternak dalam kondisi sehat dan tidak diperjualbelikan dalam keadaan sakit,” tegasnya.
Terkait lalu lintas ternak dari luar daerah, khususnya Pulau Sumbawa, hingga saat ini belum ada rekomendasi pemasukan ternak ke Lotim. Distribusi ternak dari wilayah tersebut lebih banyak diarahkan ke Pulau Jawa untuk kebutuhan kurban.
Dengan berbagai langkah pengawasan dan pencegahan yang dilakukan, pemerintah daerah optimistis kebutuhan hewan kurban masyarakat Lombok Timur dapat terpenuhi, sekaligus meminimalisir risiko penyebaran penyakit ternak.(*)

Comments
Post a Comment