Pengakuan salah satu pelaku UMKM, Ahmad Ramli, yang merasakan dampak langka Gas LPG bersubsidi 3 kilogram.

Dimensintb.com, Lombok Timur – Kelangkaan gas LPG bersubsidi 3 kilogram di sejumlah wilayah Lombok Timur mulai berdampak serius terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner.

Salah satu yang merasakan dampak tersebut adalah Ahmad Ramli, pedagang nasi asal Kecamatan Pringgasela. Ia terpaksa menghentikan sementara aktivitas usahanya karena kesulitan mendapatkan pasokan gas LPG dalam beberapa hari terakhir.

Ia mengaku telah berkeliling ke berbagai pengecer hingga pangkalan, namun stok LPG 3 kg kerap kosong. Kalaupun tersedia, harga yang ditawarkan jauh di atas harga eceran tertinggi (HET), sehingga tidak sebanding dengan kemampuan usahanya.

“Sudah keliling ke beberapa tempat, tapi gas kosong. Sekarang saya antre di pangkalan di Pringgasela ini,” ujarnya, Selasa (7/4).

Menurutnya, gas LPG merupakan kebutuhan utama dalam menjalankan usaha kuliner. Tanpa pasokan yang memadai, proses memasak tidak dapat dilakukan, sehingga memilih untuk menutup usahanya sementara waktu.

“Kalau tidak ada gas, tidak bisa masak. Mau tidak mau saya tutup dulu daripada buka tapi tidak bisa jualan,” katanya.

Kondisi serupa juga dialami pelaku UMKM lainnya. Ardi Wiranata, pedagang gorengan, mengaku sudah beberapa hari terakhir tidak berjualan akibat kesulitan mendapatkan gas LPG.

“Situasi ini sudah hampir sebulan, tapi beberapa hari terakhir saya benar-benar tidak dapat gas, jadi terpaksa tutup sementara,” ungkapnya.

Para pelaku UMKM menilai kelangkaan LPG 3 kg ini sangat berdampak terhadap keberlangsungan usaha mereka. Tidak hanya menghentikan aktivitas produksi, kondisi ini juga berpotensi menurunkan pendapatan hingga mengancam kelangsungan usaha kecil.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan distribusi dan harga LPG di lapangan. Ia khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, banyak pelaku usaha kecil yang akan gulung tikar.

“Kami berharap ada solusi cepat dari pemerintah. Kalau terus begini, usaha kecil seperti kami bisa bangkrut,” tegasnya.(*)