![]() |
| Sumber: Dikbud Lombok Timur |
Dimensintb.com, Lombok Timur – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur mengeluarkan imbauan tegas terkait pelaksanaan kegiatan perpisahan bagi siswa kelas akhir di jenjang PAUD, SD, hingga SMP, baik negeri maupun swasta.
Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan dan ketertiban, sekaligus mencegah munculnya beban biaya berlebih bagi orang tua menjelang akhir tahun pelajaran.
Sekretaris Dikbud Lombok Timur (Lotim), Lalu Bayan Purwadi, menegaskan bahwa seluruh sekolah diminta melaksanakan kegiatan perpisahan secara sederhana dan tidak berlebihan.
“Sekolah diminta memastikan kegiatan perpisahan berjalan sederhana, tidak berlebihan, dan tidak memberatkan wali murid,” tegasnya.
Dalam edaran tersebut, Dikbud secara jelas melarang adanya konvoi atau pawai siswa pasca ujian maupun saat pengumuman kelulusan. Selain itu, kegiatan karyawisata atau study tour ke luar daerah maupun ke lokasi wisata dalam rangka perpisahan juga tidak diperbolehkan.
Sebagai alternatif, kegiatan perpisahan diarahkan untuk dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan konsep sederhana yang tetap mengedepankan nilai-nilai pendidikan karakter.
Menariknya, Dikbud menekankan bahwa kegiatan tersebut harus diinisiasi oleh siswa, seperti melalui OSIS atau panitia siswa. Sementara itu, guru dan pihak sekolah hanya berperan sebagai pembina dan pengawas.
“Guru dan pihak sekolah tidak boleh menjadi penyelenggara utama. Mereka hanya melakukan pengawasan agar kegiatan tetap sesuai norma dan tata tertib,” jelasnya.
Tak hanya itu, Dikbud juga melarang adanya pungutan biaya yang berpotensi membebani orang tua siswa. Namun, sekolah tetap diperbolehkan memanfaatkan dana BOS sesuai petunjuk teknis untuk mendukung kegiatan secara wajar.
Kegiatan perpisahan pun dianjurkan diisi dengan hal-hal positif, seperti syukuran sederhana, pemberian penghargaan bagi siswa berprestasi, hingga aksi sosial seperti gotong royong membersihkan lingkungan atau tempat ibadah.
Dikbud menegaskan, kepala satuan pendidikan bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan kebijakan ini di masing-masing sekolah.
“Kami ingin memastikan momen kelulusan tetap bermakna tanpa harus berlebihan, sekaligus menanamkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial kepada siswa,” tutupnya.(*)

Comments
Post a Comment