Peristiwa tragis terjadi di wilayah Lombok Timur. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun bernama Alfin, ditemukan meninggal dunia tenggelam di sungai di Desa Ketangga, Kecamatan Suela.

Dimensintb.com, Lombok Timur - Peristiwa tragis kembali terjadi di wilayah Lombok Timur. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun bernama Alfin, siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah (MI), ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di sungai di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur.

Korban berhasil ditemukan oleh warga bersama tim gabungan, setelah proses pencarian berlangsung kurang lebih lima jam sejak dilaporkan hilang pada pukul 12.00 WITA, Sabtu (25/4).

Berdasarkan keterangan warga, kejadian bermula saat korban bersama sejumlah temannya bermain di sekitar aliran sungai. Mereka diketahui kerap melompat dari tebing atau batu besar ke dalam sungai. Namun nahas, saat giliran korban, ia diduga terpeleset dan jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter.

Koordinator Pos SAR Kayangan, M. Darwis, menjelaskan bahwa korban sempat membentur batu di pinggir sungai sebelum akhirnya tenggelam.

“Korban terpeleset saat hendak melompat, kemudian jatuh dan membentur batu sebelum masuk ke air. Saat ditemukan, korban berada di dasar sungai dalam posisi terjepit di sela batu,” jelasnya.

Ia menambahkan, korban mengalami luka di bagian mulut yang diduga akibat benturan keras saat jatuh.

Proses pencarian sempat mengalami kendala akibat kondisi sungai yang cukup dalam, berbatu, serta air yang keruh. Tim SAR tiba di lokasi sekitar pukul 16.30 WITA setelah mendapat koordinasi dari pihak kepolisian dan langsung bergabung dengan warga melakukan pencarian.

Salah satu warga setempat, Haryanto Hardani, mengaku kejadian tersebut membuat warga sekitar terpukul.

“Kami semua kaget dan sangat berduka. Anak-anak sempat berteriak minta tolong, tapi arus cukup kuat dan korban sudah tidak terlihat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat bermain di area berbahaya seperti sungai.

“Ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar anak-anak tidak bermain tanpa pengawasan,” tambahnya.

Darwis mengungkapkan, lokasi Dam Sungai Otak tersebut memang kerap dijadikan tempat bermain oleh anak-anak. Bahkan, berdasarkan catatan, kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 2012 dan 2016.

“Ini sudah kejadian ketiga, dan seluruh korban sebelumnya juga anak-anak,” ungkapnya.

Diketahui, saat kejadian kedua orang tua korban sedang bekerja di Sumbawa, sehingga korban tinggal bersama neneknya di Desa Ketangga.

Pihak keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak menuntut pihak mana pun. Situasi di lokasi dilaporkan telah kembali kondusif.(*)