![]() |
| Anak-anak di SD Negeri 4 Selaparang dan SMP Negeri 1 Satu Atap Suela yang berada di Desa Selaparang, Kecamatan Suela, Lombok Timur, hingga kini belum menerima Program MBG |
Dimensintb.com, Lombok Timur - Di Dusun Batu Tinja, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, harapan itu datang setiap kali suara mesin kendaraan terdengar mendekat. Anak-anak berlarian kecil, mata mereka berbinar, membayangkan sesuatu yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun harapan itu kerap berujung hening. Mobil yang datang bukan pembawa makanan. Bukan dapur berjalan seperti yang mereka lihat di sekolah lain. Hanya kendaraan biasa yang melintas, meninggalkan tanya yang sama dan kapan giliran kami?
Sudah lebih dari satu tahun program MBG berjalan. Tetapi bagi puluhan siswa di SD Negeri 4 Selaparang dan SMP Negeri 1 Satu Atap Suela, program itu belum pernah benar-benar hadir.
“Benar, anak-anak kami di sini belum pernah merasakan MBG,” ujar Iman, seorang guru yang setiap hari menyaksikan langsung harapan murid-muridnya tumbuh dan perlahan memudar.
Diakunya, rasa sedih tak bisa disembunyikan ketika melihat sekolah lain mendapatkan distribusi makanan bergizi secara rutin. Sementara di tempatnya, anak-anak hanya bisa membayangkan.
“Sedih, karena sepertinya hanya kita yang belum dapat,” katanya lirih.
Pernah suatu hari, sebuah mobil masuk ke halaman sekolah. Anak-anak spontan bersorak, mengira itu kiriman MBG. Mereka berkumpul, menunggu dengan penuh antusias. Namun kenyataan berkata lain dan itu hanya mobil kepala sekolah.
Sejak itu, pertanyaan tentang MBG mulai berubah. Dari penuh semangat, menjadi lelah, bahkan perlahan menghilang.
“Dulu mereka sering tanya, sekarang sudah bosan,” kata Iman.
Sekolah ini memang tidak mudah dijangkau. Jalan menuju Lendang Belo rusak, berliku, dan jauh dari pusat desa. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri, bahkan untuk sekadar mengantar makanan bagi sekitar 70 siswa yang belajar di sana.
Beberapa dapur SPPG sempat mendata jumlah siswa. Harapan sempat muncul. Namun tak ada kabar lanjutan. Diduga, akses yang sulit menjadi alasan mengapa distribusi tak kunjung sampai.
Di sisi lain, pihak UPTD Dikbud Kecamatan Suela menyebut sekolah tersebut masuk kategori wilayah 3T tertinggal, terdepan, dan terluar. Sehingga penanganannya berbeda dari sekolah reguler.
“Memang masuk kategori 3T, tapi kami sudah coba komunikasikan agar bisa masuk ke dapur terdekat,” ujar Plt UPTD Dikbud Suela, Mohamad Sakban.
Sayangnya, hingga kini belum ada kepastian kapan program MBG akan benar-benar menyentuh anak-anak di wilayah tersebut.
Di tengah segala keterbatasan, mereka masih belajar seperti biasa. Tanpa makan bergizi dari program negara yang digaungkan untuk semua.
Di Lendang Belo, MBG bukan sekadar program. Ia adalah harapan yang masih tertahan di ujung jalan rusak menunggu untuk benar-benar sampai.(*)

Comments
Post a Comment