![]() |
Dimensintb.com, Lombok Timur – Sejumlah bahan pokok dan penting (Bapokting) di Lombok Timur (Lotim), mulai mengalami kenaikan harga, salah satunya minyak goreng. Kondisi ini dikeluhkan warga, terutama pelaku UMKM yang merasakan langsung dampaknya terhadap biaya produksi.
Salah seorang pelaku UMKM, Saenab, mengaku harga minyak goreng jenis MinyaKita mengalami lonjakan signifikan. Dari sebelumnya berada di Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15 ribu per liter, kini naik menjadi sekitar Rp22 ribu per liter di pasaran.
“Harganya sangat tinggi sekarang, tadi pagi beli di pasar untuk bahan jualan. Mau tidak mau kita tetap beli walaupun harganya Rp22 ribu per kilogram,” ujarnya, Senin kemarin (08/06).
Menurutnya, Kenaikan itu akan berdampak langsung pada margin keuntungan yang diperolehnya. Meski biaya produksi meningkat, akan tetapi tetap berupaya menjaga kualitas dagangan agar tidak kehilangan pelanggan.
Harga tersebut dibenarkan Kepala Pasar Pancor, Rudi Wahyu. Ia menyebut harga minyak goreng di pasar tersebut masih bertahan tinggi dan belum menunjukkan penurunan signifikan.
“Minyak goreng sekarang sekitar Rp22 ribu sampai Rp22.500 per liter. Harganya memang berada di kisaran itu,” jelasnya.
Menurutnya, pedagang tidak memiliki ruang untuk menurunkan harga karena harga dari distributor sudah tinggi. Akibatnya, harga di tingkat konsumen sulit ditekan.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat ada distribusi minyak goreng dari Perum Bulog yang membantu menambah pasokan di pasar. Namun, dampaknya hanya bersifat sementara.
“Kemarin sempat ada penyaluran dari Bulog dan harga sedikit turun, tetapi sekarang masih bertahan di angka Rp22 ribuan,” katanya.
Tingginya harga minyak goreng turut dikeluhkan masyarakat yang berbelanja di pasar. Mereka berharap pemerintah segera melakukan intervensi melalui operasi pasar atau penambahan distribusi agar harga kembali terjangkau.
Rudi menambahkan, meskipun harga saat ini telah melampaui HET, pihak pengelola pasar tidak memiliki kewenangan untuk mengatur harga karena sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.
“Kalau melihat HET memang sudah jauh di atas. Tetapi pedagang membeli barang dengan harga yang sudah tinggi, sehingga sulit menjual lebih murah,” pungkasnya.(*)

Comments
Post a Comment