![]() |
| Salah satu sentra produksi tahu di Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur |
Dimensintb.com, Lombok Timur - Desa Danger, Kecamatan Masbagik, dikenal sebagai salah satu sentra produksi tahu di Lombok Timur. Produk tahu dari desa ini telah lama menjadi favorit masyarakat dan mudah ditemukan di berbagai pasar tradisional.
Di tengah kenaikan harga bahan baku, para pelaku usaha tahu di Danger tetap berupaya mempertahankan kualitas produk. Salah satunya Haerudin, warga Dusun Jontlak, yang mulai menekuni usaha produksi tahu sejak sekitar dua tahun terakhir.
Meski tergolong usaha baru, tahu produksi Haerudin mampu bersaing di pasaran. Rasa yang khas dan kualitas yang terjaga membuat produknya diminati konsumen. Sebelumnya, ia diketahui menjalankan usaha jual beli beras sebelum beralih ke produksi tahu.
“Saya baru sekitar dua tahun menjalankan usaha ini. Awalnya jualan beras. Walaupun masih baru, saya tetap menjaga kualitas agar tidak kalah dengan produsen lain,” ujarnya, Minggu (14/6).
Selain dipasarkan melalui reseller ke berbagai pasar tradisional, tahu produksinya juga menjadi pemasok untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, dari sebelumnya empat hingga lima dapur, kini hanya dua dapur yang masih rutin melakukan pemesanan.
Dalam sehari, Haerudin mampu memproduksi sekitar 50 hingga 60 papan tahu. Ia memproduksi dua jenis ukuran, yakni tahu kecil berisi 120 biji per papan dan tahu besar berisi 100 biji per papan. Keduanya dijual dengan harga yang sama, yakni Rp55 ribu per papan.
Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Harga kedelai saat ini mencapai Rp11.300 per kilogram dan sempat menyentuh Rp12.000, dari sebelumnya di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Harga air garam juga melonjak dari Rp40 ribu menjadi Rp90 ribu per jerigen ukuran 30 liter.
Meski demikian, Haerudin memilih tidak menaikkan harga jual. Ia hanya melakukan penyesuaian pada ketebalan tahu untuk menekan biaya produksi.
“Harga tetap sama, hanya ketebalan yang sedikit dikurangi. Kenaikan ini sudah terjadi sekitar dua bulan terakhir,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kualitas tetap menjadi prioritas utama. Haerudin memilih kedelai berkualitas baik dan segar untuk menjaga cita rasa tahu. Proses produksi pun dilakukan menggunakan metode uap agar hasilnya lebih maksimal.
“Bahan baku harus benar-benar diperhatikan. Saya pilih kedelai yang bagus dan baru dipanen agar rasanya tetap terjaga,” katanya.
Dalam menjalankan usahanya, ia dibantu empat orang karyawan dari lingkungan sekitar. Permintaan pasar yang terus meningkat membuatnya berencana menambah tenaga kerja sekaligus memperluas tempat produksi.
Proses produksi dilakukan pada malam hari untuk menjaga kualitas tahu tetap segar dan tidak cepat rusak saat dipasarkan keesokan harinya.
Dengan kapasitas produksi saat ini, Haerudin mengaku mampu meraih keuntungan bersih berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp2 juta per hari.
“Kami optimistis usaha tahu Danger akan terus berkembang meski di tengah kenaikan harga bahan baku,” pungkasnya.(*)

Comments
Post a Comment