![]() |
| Kadis Perdagangan, Lotim, Hadi Fathurrahman. |
Dimensintb.com, Lombok Timur – Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Timur (Loim) mengakui kenaikan harga minyak goreng merek MinyakKita tidak terlepas dari dinamika ekonomi global, khususnya kenaikan harga bahan baku kemasan plastik.
Kepala Dinas Perdagangan Lotim, Hadi Fathurrahman, mengatakan lonjakan harga plastik di pasar dunia berdampak langsung terhadap komoditas yang menggunakan kemasan berbahan tersebut, termasuk minyak goreng.
“Tidak bisa kita pungkiri, dinamika global seperti naiknya harga plastik dunia turut berdampak pada komoditas yang menggunakan kemasan plastik,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya berencana menggandeng sejumlah pihak untuk menggelar operasi pasar guna menekan harga dan menjaga stabilitas di tengah masyarakat.
“Kami terus berikhtiar melalui operasi pasar bersama Bulog serta pasar murah yang bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) untuk stabilisasi harga,” tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah bahan pokok dan penting (Bapokting) di Lombok Timur (Lotim), mulai mengalami kenaikan harga, salah satunya minyak goreng. Kondisi ini dikeluhkan warga, terutama pelaku UMKM yang merasakan langsung dampaknya terhadap biaya produksi.
Salah seorang pelaku UMKM, Saenab, mengaku harga minyak goreng jenis MinyaKita mengalami lonjakan signifikan. Dari sebelumnya berada di Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15 ribu per liter, kini naik menjadi sekitar Rp22 ribu per liter di pasaran.
“Harganya sangat tinggi sekarang, tadi pagi beli di pasar untuk bahan jualan. Mau tidak mau kita tetap beli walaupun harganya Rp22 ribu per kilogram,” ujarnya, Senin kemarin (08/06).
Menurutnya, Kenaikan itu akan berdampak langsung pada margin keuntungan yang diperolehnya. Meski biaya produksi meningkat, akan tetapi tetap berupaya menjaga kualitas dagangan agar tidak kehilangan pelanggan.
Harga tersebut dibenarkan Kepala Pasar Pancor, Rudi Wahyu. Ia menyebut harga minyak goreng di pasar tersebut masih bertahan tinggi dan belum menunjukkan penurunan signifikan.
“Minyak goreng sekarang sekitar Rp22 ribu sampai Rp22.500 per liter. Harganya memang berada di kisaran itu,” jelasnya.
Menurutnya, pedagang tidak memiliki ruang untuk menurunkan harga karena harga dari distributor sudah tinggi. Akibatnya, harga di tingkat konsumen sulit ditekan.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat ada distribusi minyak goreng dari Perum Bulog yang membantu menambah pasokan di pasar. Namun, dampaknya hanya bersifat sementara.
“Kemarin sempat ada penyaluran dari Bulog dan harga sedikit turun, tetapi sekarang masih bertahan di angka Rp22 ribuan,” katanya.
Tingginya harga minyak goreng turut dikeluhkan masyarakat yang berbelanja di pasar. Mereka berharap pemerintah segera melakukan intervensi melalui operasi pasar atau penambahan distribusi agar harga kembali terjangkau.
Rudi menambahkan, meskipun harga saat ini telah melampaui HET, pihak pengelola pasar tidak memiliki kewenangan untuk mengatur harga karena sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.
“Kalau melihat HET memang sudah jauh di atas. Tetapi pedagang membeli barang dengan harga yang sudah tinggi, sehingga sulit menjual lebih murah,” pungkasnya.(*)

Comments
Post a Comment