Kepala Dinas Perhubungan Lombok Timur. Muhammad Safwan.

Dimensintb.com, Lombok Timur - Layanan angkutan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) rute Bandara - Pancor -Sembalun di Lombok Timur (Lotim) hingga kini dinilai belum berjalan maksimal.

Kepala Dinas Perhubungan Lotim, Muhammad Safwan, ungkapkan tingkat keterisian penumpang masih rendah. Armada yang berkapasitas sekitar 14 orang jarang terisi penuh.

“Belum berjalan maksimal. Bus yang berisi sekitar 14 orang itu jarang penuh. Dari laporan di lapangan, hanya beberapa penumpang yang terangkut,” ujarnya, Jumat Kemarin (11/6).

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah minimnya sosialisasi sehingga banyak masyarakat, khususnya di Lombok Timur, belum mengetahui keberadaan layanan tersebut. Akibatnya, masyarakat masih lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi saat menuju kawasan wisata Sembalun.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya akan meningkatkan sosialisasi agar layanan ini lebih dikenal luas. Ia menilai angkutan KSPN memiliki keunggulan dari sisi tarif yang terjangkau dan kenyamanan.

“Kami akan terus sosialisasikan. Tarifnya sangat murah, hanya Rp20 ribu, baik dari bandara maupun dari Pancor menuju Sembalun,” jelasnya.

Selain sosialisasi, Dishub juga menyoroti persoalan jadwal operasional armada yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saat ini, layanan masih beroperasi dengan rute Bandara–Pancor–Sembalun.

Ke depan, pihaknya berharap minimal satu armada dapat standby di Terminal Pancor untuk mengakomodasi masyarakat yang ingin berangkat ke Sembalun pada pagi hari.

“Kami akan evaluasi jadwalnya agar lebih sesuai kebutuhan masyarakat. Ini juga akan kami koordinasikan dengan BPTD Mataram,” tambahnya.

Safwan mengajak masyarakat untuk mulai memanfaatkan layanan angkutan KSPN tersebut, mengingat selain murah, fasilitas yang disediakan juga dinilai aman dan nyaman.

Di sisi lain, ia juga mendorong pemanfaatan halte pemberhentian di kawasan Sembalun sebagai ruang promosi produk lokal. Hal ini diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat setempat sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan.

“Halte bisa dimanfaatkan untuk menampilkan produk-produk lokal sebagai oleh-oleh, sehingga wisatawan yang singgah bisa melihat dan membeli," pungkasnya.